Bulan Sya'ban, Bulannya Beshalawat

Bulan Sya’ban, Bulannya Bershalawat
Salah satu keutamaan yang terdapat di bulan Sya’ban adalah sebagai bulan diperintahkannya shalawat dan salam kepada Rasulullah , hal ini sebagaimana Allah telah nyatakan di dalam Al-Qur’an,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab : 56)

As-Sayyid Muhammad Al-Maliki menyebutkan di dalam kitabnya ma dza fii sya’ban, beliau menulis bahwasanya Ibnu Ash-Shaif Al-Yamani berkata, “Dikatakan bahwa sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan bershalawat kepada Rasulullah . Sebab ayat (surah al-Ahzab ayat 56) tersebut, diturunkan dalam bulan Sya’ban.”

Dan berkata pula, Imam Syihabuddin Al-Qasthalani bahwasanya sebagaian ulama mengatakan, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan untuk bershalawat kepada Rasulullah  sebab ayat yang memerintahkannya turun pada bulan Sya’ban.

Dan menjelaskan pula Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahwasanya ayat tersebut diturunkan pada bulan Sya’ban pada tahun 2 H atau ada pendapat pada tahun dimana Rasululullah di isra’ dan mi’raj kan. Semua pendapat ini dapat diliat dalam kitab karangan As-Sayyid Muhammad.

Adapun maksud ayat di atas, Allah memerintahkan kepada semua orang yang beriman agar senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad karena Allah dan para Malaikat-Nya pun senantiasa bershalawat kepadanya. Dan maksud dari perintah ini, bukanlah semata-mata keperluan Allah, tetapi untuk tujuan pengagungan mereka terhadap sesuatu yang mereka imani dengan suatu perintah yang sesuai dengan Allah sang Penguasa, Sang Maharaja. Allah telah memberi hidayah kepada Nabi untuk kaum mukminin, dan dengan lisan Nabi dapat mengantarkan mereka kepada suatu derajat yang dimiliki beliau.

Shalat kita kepada Nabi Muhammad, bukanlah berarti kita memberi syafa’at Nabi Muhammad, sebab tiadalah mungkin orang seperti kita dapat memberikan syafa’at kepada beliau, karena beliau sendiri adalah orang yang paling mulia di sisi Allah. Akan tetapi shalawat itu ibarat pemberian tanda terima kasih kita, kepada seorang yang menujukkan kita kepada jalan kebenaran. Dan sungguh mustahil-lah kita dapat memberikan sesuatu kepada Nabi Muhammad, maka sebaik-baiknya pemberian yang dapat kita berikan kepada Rasulullah hanyalah berupa doa dalam bentuk shalawat, yang mana dengan doa tersebut nantinya pahalanya akan mengalir dan kembali kepada kita yang membacanya. Karena sebagaimana Rasulullah bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ بِهَا عَشْرًا
“Barangsiapa yang membacakan shalawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

(Diriwayatkan Imam Muslim)

Pandangan Islam terhadap Muslim Cyber Army (MCA) / Pasukan Cyber Islam

Akhir-akhir ini dunia maya dan media selalu disuguhkan dengan berita-berita yang tidak mengenakan, yang mana isinya selalu menyudutkan umat Islam. Setiap segala sesuatu yang dilakukan oleh umat Islam, apapun itu pasti selalu dicari sisi negatifnya, kiyai poligami yang jelas halal secara islam, tapi seakan-akan dibuat seperti seorang yang melakukan dosa besar. Kemudian ulama mengumpulkan dana sedekah, diberitakan sedekah tersebut buat aksi terorisme. Orang yang menuntut keadilan, tapi justru peminta keadilan dianggap seorang yang ingin mengadu domba. Mengapa semua ini terjadi ? jelas, karena musuh-musuh Islam amat membenci dan memusuhi Islam, bagaimanapun mereka akan berusaha menghancurkan umat Islam dimanapun mereka bereda.
Dan khusus umat Islam di Indonesia sekarang ini, sebenarnya umat Islam di negeri ini sedang diserang oleh musuh-musuh Islam, bukan dengan senjata tapi dengan perang pemikiran dan media-media berita (Ghazwul Fikri) seperti yang telah saya sebut diatas, dan masih banyak lagi seperti tayangan-tayangan televisi yang merusak moral pemuda-pemudi Islam. Maka oleh sebab itu, kita sekarang ini tidak boleh tinggal diam, kita harus melawan. Bagaimana caranya ? yah tentu dengan serangan pemikiran juga, kita jangan tinggal diam jika melihat berita yang menyudutkan tentang Islam. Sebagaimana Allah berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfal : 60)

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan, “siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”, inilah yang menjadi dasar kita, bahwasanya perang itu bukan hanya dengan senjata, tapi dengan apa yang kita sanggupi. Maka tatkala kita diserang oleh pemikiran-pemikiran yang menyudutkan Islam, maka kita harus membalas dengan pemikiran yang menyudutkan musuh-musuh Islam (musuh Allah) bagaimanapun itu caranya. Karena melawan perang pemikiran (ghazwul fikri) sekarang ini adalah merupakan bentuk Jihad yang ada di indonesia. Hancurkan lah mental musuh-musuh Allah, sebagaimana sekarang kita dapat melihat, seperti contoh kasus si Ernest yang menuduh seorang Ulama adalah Isis, kemudian Uus yang menghina seorang Ulama. Ketika para MCA (Mujahidin Cyber) bergerak, maka hancurlah mereka. Hingga yang terbaru mereka dibuat bertekuk lutut untuk meminta maaf kepada umat Islam, yang kita tidak yakin apakah mereka tulus dalam meminta maaf tersebut.

Keajaiban Shalat di Awal Waktu

JAKARTA (Arrahmah.com) – Hidup selalu berwarna, tantangan dan bahagia membuatnya tak serupa. Namun, jika shalat dijaga, hasilnya ternyata tak berbeda, yaitu barokah dari Allah subhanahu wata’ala.
Berikut Arrahmah kutipkan sebuah kisah nyata penuh ibrah di Ramadhan 1436 Hijriyah ini. Kisah sarat hikmah ini disampaikan seorang netizen, yang tidak menyebutkan namanya, dari Facebook pada Rabu (1/7/2015).

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Saya ada cerita tentang sahabat saya yang berbeda profesi tapi “amalannya” sama dengan saya. Dia selalu menjaga sholat di awal waktu. Apa yang terjadi? Dengan menjaga sholat wajib di awal waktu ternyata dia mendapatkan keberkahan yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Sahabat saya yang satu ini, profesi awalnya adalah sopir angkot. Setiap hari dia menyupir angkot dengan sistem setoran ke majikan. Setor karena angkotnya punya orang lain.
Nah suatu hari, majikannya bangkrut, karena semakin mahalnya harga bensin. Akhirnya sahabat saya ini, katakanlah Udin, jadi tidak punya mata pencaharian. Karena angkot majikannya sudah dijual.
Karena Udin bukan tipe orang yang gampang putus asa, akhirnya dia mencari pekerjaan lain. Dipilihlah becak sebagai jalan ikhtiarnya. Sebab hanya berprofesi sebagai tukang becak, kehidupannya pun sangat sederhana, kalau tidak mau dikatakan kurang.
Dia tinggal bersama tiga putri dan seorang istrinya di sebuah rumah kontrakan yang mungkin cuma layak disebut kamar. Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sehari-harinya. Pagi-pagi pergi dari rumah mencari penumpang, sore pulang. Setiap hari seperti itu.
Namun setelah dicermati, tenyata ada satu hal yang membuat Udin berbeda dari abang becak lainnya, bahkan dari kebanyakan kita. Udin selalu menjaga sholat diawal waktu, dan selalu dia lakukan di Masjid.
Dimanapun dia berada selalu menyempatkan bahkan memaksakan sholat diawal waktu. Setiap mendekati waktu sholat, jika tidak ada penumpang, dia akan mangkal di tempat yang dekat dengan masjid. Iya mendekati masjid.
Pokoknya dia tidak pernah ketinggalan sholat wajib awal waktu bahkan selalu berjamaah di masjid. Dan tenyata itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Ternyata istri dan ketiga putrinya pun begitu, mereka selalu sholat diawal waktu, meskipun berada di rumah.
Singkat cerita, suatu hari ketika saya sedang mangkal di salah satu hotel berbintang di Bandung. Ada seorang ibu turun dari mobil Merci tiba-tiba mendekati saya dan meminta untuk diantar ke salah satu tempat perbelanjaan di kawasan alun-alun kota Bandung, kata Udin.
Ketika si Ibu itu bilang minta dianter memakai becak saya malah balik nanya. “Engga salah Bu naik becak ?” kata Udin.
“Engga Bang, jalanan macet, biar mobil disimpen di hotel aja, sekalian sopir saya istirahat,” jawab si Ibu.
Maka diantarlah si Ibu tadi ke pusat perbelanjaan yang dia minta. Saya pun mengayuh becak masih dalam keadaan kaget. Ketika mendekati alun-alun Bandung, terdengarlah suara adzan dzuhur dari Masjid Raya Jawa Barat.
“Saya langsung belokkan becak ke pelataran parkir Majid. Si Ibu pun heran dengan apa yang saya lakukan”, kata Udin.
“Bang kok berhenti disini?” kata si Ibu.
“Iya Bu, udah adzan, Allah udah manggil kita buat sholat.”
“Saya mau sholat dulu. Ibu turun disini aja, tokonya udah dekat koq, di belakang masjid ini. Biarin Bu GA USAH BAYAR.”
“Tanggung Bang, lagian saya takut nyasar,” kata si Ibu.
“Kalo Ibu mau saya anter saya sholat dulu, ya, Bu.”
Setelah selesai sholat Udin pun kembali menuju ke becaknya. Ternyata si Ibu dan asistennya masih nunggu di becak. Diantarlah si Ibu tadi ke pusat perbelanjaan di belakang Masjid Raya.
“Bang tunggu disni ya, ntar antar lagi saya ke hotel,” kata si Ibu.
“Iya Bu, tapi kalo Ibu balik lagi ke becak pas adzan ashar, ibu tunggu dulu disini, saya jalan kaki ke masjid.”
Singkat cerita si Ibu kembali ke becak jam 15.30. Kemudian di becak dia nanya di mana Udin tinggal.
Si Ibu penasaran dengan kebiasaan Udin, demi sholat diawal waktu berani meninggalkan penumpang di becak, ga peduli dibayar atau tidak. “Bang, saya pengen tau rumah abang,” kata si Ibu.
“Waduh emangnya kenapa Bu?” tanya Udin kaget.
“Saya pengen kenal sama keluarga abang,” kata si Ibu.
“Jangan Bu, rumah saya jauh. Lagian di rumah saya engga ada apa-apa.”
Si Ibu terus memaksa. Akhirnya setelah menunggu si Ibu sholat jamak dzuhur dan ashar di hotel, mereka pun pergi menuju rumah Udin.
Tapi kali ini Udin pakai becak, si Ibu mengikuti di belakangnya pake mobil Merci terbaru. Setibanya di rumah kontrakan Udin, si Ibu kaget, karena rumahnya sangat kecil. Tapi kok berani tidak dibayar demi sholat.
Mungkin karena penasaran si Ibu nanya. “Bang koq berani engga dibayar?”
“Rezeki itu bukan dr pekerjaan kita Bu, rezeki itu dari Allah, saya yakin itu. Makanya kalo Allah manggil kita harus dateng.”
“Haiyya ‘Alal Fallaah … kan jelas Bu. Marilah kita menuju kemenangan, kesejahteraan, kebahagiaan. Saya ikhtiar udah dengan narik becak, hasilnya gimana Allah. yang penting kitanya takwa ke Allah ya kan Bu?” kata Udin.
“Saya yakin janji Allah di QS Al-Baqarah ayat 3.” kata Udin. Si Ibu pun terdiam sambil meneteskan air mata.
Setelah dikenalkan dan ngorol dgn keluarga Udin si Ibu pun pamit. Sambil meminta Udin mengantarkannya kembali minggu depan.
“Insya Allah saya siap Bu,” kata Udin. Si Ibu pun pamit sambil memberi ongkos becak ke Istrinya Udin. Setelah si Ibu pergi ongkos becak yang dimasukan kedalam amplop dibuka oleh Udin. Ternyata isinya satu juta rupiah. Udin dan keluarganya pun kaget dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan melewati si Ibu tadi.
Seminggu kemudian Udin mendatangi hotel tempat si Ibu menjanjikan. Setelah bertanya ke satpam, Udin tidak diperbolehkan masuk. Satpam tidak percaya ada tamu hotel bintang lima janjian sama seorang tukang becak. Udin ga maksa, dia kembali ke becaknya.
Nah, itu pula yang sering kita lakukan, seringkali kita melihat orang dari penampilannya. Padahal Allah tidak melihat pangkat, jabatan, pekerjaan, harta, warna kulita kita. Allah hanya melihat ketakwaan kita. Karena penasaran Udin ga masuk-masuk ke Lobby Hotel, akhirnya si Ibu keluar, dan melihat Udin sedang tertidur di becaknya.
“Bang, kenapa engga masuk?” Tanya si Ibu sambil membangunkan Udin.
“Ga boleh sama satpam Bu,”jawab Udin.
“Bang, kan kemaren abang yang ngajak saya jalan-jalan pake becak. Sekarang giliran saya ngajak abang jalan-jalan pake mobil saya,” kata si Ibu.
“Lah, Ibu ini gimana sih, katanya mau saya anter ke toko lagi,” kata Udin.
“Iya mau dianter tapi bukan ke toko bang,” kata si Ibu di awal waktu.
Setelah diajak naik mobil Merci nya si Ibu, Udin pun menolaknya, karena dia merasa kebingungan.
“Mau dibawa kemana saya Bu ?”
“Udah saya pake becak saya aja, ngikut di belakang mobil Ibu. Engga pantes saya naik mobil sebagus itu,” kata Udin.
“Lagian becak saya mau ditaro dimana?”
Namun setelah dibujuk oleh sopir dan asisten si Ibu, Udin pun mau ikut naik mobil. Becaknya dititip di parkiran belakang hotel.
Berangkatlah mereka dari hotel. Masih dengan rasa penasaran Udin pun bertanya, “mau kemana sih Bu?”
Di salah satu kantor Bank Syariah, mereka pun berhenti. “Bang, pinjem KTP nya ya”, kata asisten si Ibu.
“Waduh apalagi nih?” pikir Udin.
“Buat apa Neng? Koq saya diajakin ke Bank, trus KTP buat apa?”, kata Udin heran.
Akhirnya asisten si Ibu menjelaskan, bahwa ketika minggu lalu mereka diantar Udin belanja, si Ibu mendapatkan sebuah pelajaran.Pelajaran hidup yang sangat mendalam. Dimana seorang abang becak dengan kehidupan yang pas-pasan tapi begitu percaya kepada janji Allah.
Sementara si Ibu yang merupakan seorang pengusaha besar dan suaminya pun pengusaha, selama ini kadang ragu pada janji Allah. Seringkali, akibat kesibukan mengurus usaha, belanja, meeting dll, dia menunda-nunda sholat. Bahkan tidak jarang lupa sholat.
“Nah sejak minggu lalu setelah pulang dari Bandung, Ibu mulai merubah kebiasaannya. Dia selalu berusaha sholat awal waktu”, kata asisten.
Saat pulang ke Jakarta, suaminya pun heran dengan perubahan si Ibu. Padahal dia juga punya kebiasaan yang sama dengan istrinya. Setelah diceritakan asal mula perubahan itu, suaminya pun menyadari, bahwa selama ini mereka salah. Terlalu mengejar dunia. Oleh karena itu Ibu dan suaminya ingin menghadiahi abang Udin untuk berangkat haji. Mendengar akan DIBERANGKATKAN IBADAH HAJI, Udin pun kaget campur bingung.
Dengan spontan Udin MENOLAK hadiah itu. “Engga mau neng, saya engga mau berangkat haji dulu. Meskipun itu doa saya tiap hari.”
“Loh koq engga mau Bang?” kata asisten kaget.
“Apa kata tetangga dan sodara-sodara saya nanti neng, saat saya pulang berhaji. Koq ke haji bisa tapi masih ngebecak?”
“Memang berangkat haji adalah cita-cita saya. Tapi nanti setelah saya mendapatkan pekerjaan selain narik becak neng.”
Akhirnya asisten berdiskusi dengan si Ibu. Sambil menunggu mereka diskusi. Udin pun tidak henti-hentinya bertanya pada Allah.
“Ya Allah pertanda apakah ini?” kata Udin.
Tidak lama si Ibu menghampiri Udin dan bertanya “Bang, kan abang bisa bawa mobil, bagaimana kalau menjadi supir di perusahaan saya di Jakarta?”
“Waduh … Jakarta ya, Bu? Ntar, keluarga saya gimana disini. Anak-anak masih butuh bimbingan saya. Apalagi semuanya perempuan. Kayaknya engga deh Bu. Biar saya pulang aja deh. Insya Allah kalau Allah ridho lain kali pasti saya diundang untuk berhaji.”
Akhirnya si Ibu membujuk Udin untuk mendaftar haji dulu. Brangkatnya mau kapan terserah, yang penting dia menjalankan amanat suaminya. Kemudian si Ibu menelpon suaminya, menjelaskan kondisi yang ada mengenai Udin. Setelah selesai mendaftar haji di Bank, kemudian mereka pergi menuju sebuah dealer mobil.
“Kok masuk ke dealer mobil, Bu? Ibu mau beli mobil lagi? Mobil ini kurang gimana bagusnya?” kata Udin bingung. Sambil tersenyum si Ibu meminta Udin menunggu di mobil. Dia pun turun bersama asistennya. Selang setengah jam, si Ibu kembali ke mobil sambil membawa kwitansi pembayaran tanda jadi mobil.
“Nih bang, barusan saya sudah membayar tanda jadi pembelian mobil angkutan umum, pelunasannya nanti kalau trayek sudah diurus.”
“Mobil angkutan umum ini buat bang Udin, hadiah dari suami saya.” Kata si Ibu.
“Jadi sambil menunggu keberangkatan abang ke haji tahun depan, abang bisa menabung dengan usaha dari mobil angkutan milik sendiri.”
Sambil meneteskan air mata tidak henti-hentinya Udin mengucap syukur kepada Allah.
“Ini bukan dari saya dan suami saya, ini dari Allah melalui perantaraan saya,” kata si Ibu.
“Hadiah karena abang selalu menjaga sholat diawal waktu. Dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan suami.”
“Mudah-mudahan kita semua bisa istiqomah menjaga sholat awal waktu, ya, bang,” kata si Ibu.
Akhirnya mereka pun kembali ke hotel, namun sebelumnya mampir di masjid untuk sholat dzuhur berjamaah.Setelah sholat dzuhur kemudian makan siang, mereka pun berpisah. Udin pulang ke rumah dengan becaknya. Si Ibu langsung ke Jakarta.
Setelah itu kehidupan Udin semakin membaik. Dia sudah memiliki rumah sendiri, walapun nyicil. Yang tadinya dia seorang supir angkot dan abang becak, sekarang dia jadi pemilik angkot dan sudah berhaji.
Alhamdulillah sampai saat ini Udin masih terus menjaga sholat awal waktu, malah semakin yakin dengan janji Allah. Cerita ini merupakan KISAH NYATA, meskipun ada beberapa penambahan dan pengurangan dalam penuturannya.
Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, dan menjadikan kita semakin yakin dengan janji Allah.
Sahabat, .. poin dari cerita ini adalah ketika Allah berkehendak, semuanya akan menjadi nyata. Mari kita jaga sholat di awal waktu, untuk mendapatkan keberkahan dari-Nya.
“Jangan tinggalkan pula sholat dhuha dan tahajud-nya yach .. Semangat!!” Demikian netizen mengakhiri kisah yang dibaginya. Allahu akbar!. (adibahasan/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/07/01/kisah-nyata-keajaiban-sholat-tepat-di-awal-waktu.html#sthash.8Flyc3mA.dpuf

Seseorang Akan Bersama yang Dicintainya Kelak di Akhirat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan At-Tirmidzi)
Asbabul Wurud
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
رَأَيْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرِحُوا بِشَيْءٍ لَمْ أَرَهُمْ فَرِحُوا بِشَيْءٍ أَشَدَّ مِنْهُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ يُحِبُّ الرَّجُلَ عَلَى الْعَمَلِ مِنْ الْخَيْرِ يَعْمَلُ بِهِ وَلَا يَعْمَلُ بِمِثْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Aku melihat para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bergembira karena sesuatu yang aku belum pernah melihat mereka bergembira melebihi hal itu. Salah seorang dari mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai seseorang karena amal baik yang ia kerjakan, namun ia tidak bisa melakukan yang serupa?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Seseorang itu akan bersama orang yang disukainya.” (Diriwayatkan Abu Dawud)
Penjelasan Hadits
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam setiap orang itu kelak di akhirat akan dipertemukan dan bersama dengan orang yang dicintainya. Dicintai disini, bisa juga orang yang diidolakan, didukung, disayangi, dijaga, dilindungi, atau teman pun dapat masuk dalam kategori ini.
Jadi tatkala ada orang yang mencintai seorang yang sholeh, orang yang taat, rajin beribadah, orang Islam, orang yang kelak dijanjikan oleh Allah akan masuk ke dalam surga-Nya. Maka, sudah barang tentu orang yang mencintai tersebut pasti akan bersama orang yang dicintainya di surga-Nya juga kelak. Adapun jika ada orang yang mencintai seorang yang buruk, orang yang sombong, ahli maksiat, orang Kafir, orang yang kelak disiksa oleh Allah di dalam neraka-Nya. Maka, sudah barang tentu orang yang mencintai tersebut pasti akan bersama orang yang dicintainya pula di neraka-Nya juga kelak. Mengapa demikian ? karena sebagaimana dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
"Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat." (Diriwayatkan Ahmad)
Lihatlah betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memperingatkan kita, agar kita tak salah dalam mencintai orang atau mengidolakan seseorang atau memilih. Karena disaat kita memilik seorang teman, maka tatkala teman kita adalah orang yang ahli maksiatnya, lama kelamaan kita juga pasti akan terjerumus ikut dalam kemaksiatan. Dan ketika berteman orang yang berbeda agama dengan kita, atau kita mengidolakannya, atau mengidolakannya, lama-kelamaan, sadar-tidak sadar kita nanti pasti akan mengikutinya dan –Nauzubillah- kita dapat terbawa ke dalam agamanya. Sebagaiman Abu Hurairah pernah mengatakan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (Diriwayatkan Al-Bukhari)

Terkadang Membalas itu Lebih Utama daripada Kesabaran

Akhir-akhir ini sering kali kita dengar ucapan orang, entah itu orang Islam ataupun orang Non-Islam (Kafir), mereka selalu mendengung-dengungkan “Islam itu kan agama yang cinta Damai”, “Islam itu kan pemaaf”, “Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin”, kemudian orang-orang seperti ini selanjutnya bilang, “Kalo kita umat islam dizholimin, yaudah lebih baik kita bersabar”, “Kalo orang salah minta maaf yaudh dimaafin”.
Ringkasan omongan diatas jika dilihat dari kacamata awam seakan-akan benar, memang Islam Agama Rahmatan ‘Alamin yang pemaaf dan cinta damai. Tapi pernahkah kita sebagai umat Islam mencoba untuk belajar tentang Islam yang lebih jauh dan lebih dalam. Pernahkan anda sebagai umat Islam mendengar Firman Allah ini,
الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah : 194)
Kemudian firman Allah,
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ
Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (An-Nahl: 126)
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim. (Asy-Syuro: 40)
Coba pahami ketiga firman Allah tersebut, Allah menjelaskan bahkan membolehkan kita untuk melawan dan membalas tatkala kita sebagai umat Islam dizholimi, dihina dan dicaci maki. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya,
“Kejahatan orang yang pertama merupakan perbuatan zalim, dan balasan kejahatan yang setimpal dari orang kedua (dizalimi) merupakan ganjaran bagi orang pertama, sebab hal ini merupakan balasan perbuatan zalim atas orang zalim tersebut.”
Lebih lanjut Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan,
“Barangsiapa yang menzalimimu maka ambillah hakmu yang dizalimi tersebut, barang siapa yang mencacimu, maka cacilah ia sesuai dengan cacian yang setimpal, barang siapa yang mempermalukanmu maka permalukan dia, dan janganlah kamu melebihi itu seperti mempermalukan kedua orang tuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain.” (Tafsir Al-Qurthubi jilid 2 hal 360 terbitan Daar Al-Shaab Kairo)
Memang di ayat tersebut kita ketemui ada kata bahwasanya memaafkan dan bersabar itu lebih baik. Memang betul, tapi disini kita liat konteksnya pada ayat lain, yang mana Allah Berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Maidah : 54)
Ayat ini mengkhususkan ayat yang diatas, ketika ada orang Islam yang menghina mencela kita, maka memaafkan mereka lebih baik dan bersabar atas kezaliman mereka adalah lebih utama dan boleh membalasnya, karena mereka adalah saudara kita. Adapun jika yang berbuat zalim kepada kita, menghina kita, mencela kita itu datang dari orang kafir. Maka kita lebih baik untuk membalasnya dan boleh memaafkannya. Dan membalas orang-orang seperti itu bukanlah dosa di pandangan Allah,
وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. (Asy-Syuro : 41)
Mungkin nanti setelah kami menerangkan hal seperti ini, pasti ada umat Islam yang cerdas. Kemudian dia berkomentar, bukankah Rasulullah pernah dicaci dan dihina oleh orang kafir yahudi yang buta matanya, yang setiap hari dicaci tapi Rasulullah tetap memberinya makan dengan menyuapinya hingga beliau wafat.
Orang yang berpikir seperti diatas cerdas tapi tidak begitu cerdas, mungkin dia tidak pernah mendengar kisah Ubay bin Khalaf, seorang kafir yang selalu menghina dan menantang Rasulullah yang kemudian beliau bunuh dalam medan peperangan. Dua kisah ini akan kami bahas dalam artikel kami selanjutnya Insya Allah.
Kisah pertama Rasulullah tidak membalas, karena yang dihina dan dicaci si yahudi buta itu adalah diri pribadi Rasulullah, dan tidak merugikan Islam sedikit pun. Dan Allah memerintahkan Rasulullah secara khusus Nabi dalam Firmannya,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An-Nahl : 126)
Ketika An-Naml 125, Allah menyebut boleh membalas dalam bentuk jamak (kalian). Dalam ayat An-Nahl Allah menyebut tunggal (kamu muhammad). Yang maksudnya disitu kesabaran itu paling utama untuk Rasulullah. Yaitu kesebaran tatkala dirinya dihina dan dicaci..
Adapun kisah kedua, tatkala ubay bin khalaf menghina dan menantang Rasulullah, maka Rasulullah membunuhnya dalam peperangan. Mengapa, karena ubay adalah salah seorang pemimpin kaum Quraisy, jika ia menantang dan ia menghina, maka ini mengancam keselamatan Rasulullah, jika andaikata Rasulullah tak melawan, dan membiarkan ubay membunuhnya, maka tamatlah sudah dakwah Islam yang dibawa Rasulullah.

Jadi kesimpulannya, orang buta tak dibalas, karena si buta ini tak memiliki pengaruh apa-apa terhadap Islam. Sedangkan si ubay dilawan, karena membahayakan dan menghina Islam

Renungan Untuk Warga Jakarta

Suatu hari seorang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kemudian ia sodorkan kepada mereka sebuah gelas yang terbuat dari berlian sembari berkata, "Bahkan jika kalian semua mengumpulkan harta untuk membeli gelas berlian ini, kalian tidak akan pernah bisa membelinya. Ini adalah benda termahal seantero negeri."
Semua menatap kagum. Betapa mahal dan indah gelas yang ada di hadapan mereka.
Sang raja melanjutkan, "Wahai rakyatku, siapa diantara kalian yang bersedia untuk memecahkan gelas ini?"
Terkaget-kaget mereka mendengarnya. "Duhai Baginda Raja, bagaimana mungkin kami tega memecahkan benda termahal seantero negeri?" Kata salah seorang dari menteri kerajaan. Yang lain menganguk setuju.
"Benar, wahai raja, bukankah itu pusaka negeri ini? Kami sekali-kali tak akan tega merusaknya." Sahut yang lainnya.
Suasana berubah gaduh, masing-masing berbisik kepada teman di sampingnya.
Tak berselang lama, seorang pemuda muncul dari kerumunan. Ia berjalan tenang, memberi hormat kepada raja, lantas tanpa berbicara apa-apa, ia langsung ayunkan kapak di genggamannya. Maka seketika gelas berlian itu pecah berkeping-keping.
Seketika itu pula orang-orang berteriak memaki-maki, mereka benar-benar marah. Hampir-hampir mereka akan mengeroyokinya jika saja raja tak segera menenangkan mereka.
"Wahai rakyatku, mari dengar dulu alasan kenapa pemuda ini berani memecahkan gelas berlian itu?" Ujar sang raja.
"Wahai rajaku," Kata si pemuda. "Gelas berlian ini memang sangat mahal dan sangat penting, tapi perintahmu untuk memecahkannya jauh lebih mahal dan lebih penting dari apapun."
Sang Raja tersenyum. Betapa bijaknya pemikiran si pemuda.
***
Sebentar lagi kita akan mengikuti pemilu gubernur DKI Jakarta, yang ingin saya katakan adalah...
Jikalaupun gubernur yang sekarang tidak korupsi, dermawan tiada terkira, banyak membawa perubahan. Saya tetap tidak akan memilihnya besok lusa. Kenapa? Karena boleh jadi dia itu memang penting bagi Jakarta tapi ketahuilah perintah Allah untuk tidak memilih pemimpin kafir jauh lebih penting.
Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?" (An-Nisa' 144)

Mari belajar dari si pemuda, belajar meletakkan perintah Allah diatas segala-galanya. Karena hanya dengan begitu kita akan tumbuh menjadi mukmin sejati. Sebarkan utk org dki yg mau berfikir & berpegang kepada AlQuran dan Hadis..!

Sumber : Brodcast dari WhatsApp

Surga Pria ada pada Ibunya, sedangkan Surga Wanita ada pada Suaminya

Saudara dan saudariku, Allah itu maha adil dan bijaksana tiada pun yang terjadi di dunia ini melainka akan terjadi dengan keadilan dan kebijaksanaan Allah.
Kita hidup di dunia ini hanya sementara, dan akhirat-lah yang nantinya akan menjadi tempat kembali kita untuk selama-lamanya. Tapi, yang menjadi pertanyaan apakah di akhirat kelak masuk surga dan merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya? Atau kita masuk neraka dan merasakan siksaan yang amat sangat pedihnya ? Kita meyakini, bahwa memang setiap orang yang beriman meskipun berdosa pasti akan masuk surga, meskipun mampir dulu ke neraka.
Terus yang menjadi pertanyaan, bagaimana seorang yang beriman masuk surga tanpa mampir dulu ke neraka. Jawabannya ada dua :
Pertama, untuk kaum adam (pria) yang ingin masuk surga adalah dengan berbakti kepada kedua orangtuanya terutama kepada ibunya, hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Muawiyah bin Jahimah As-Salami bahwasanya ia pernah datang menemui Nabi lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin pergi berjihad, dan aku datang kepadamu untuk meminta pendapat.” Beliau berkata, “Apa kau masih mempunyai Ibu?” Ia menjawab, “Ya, Masih.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,
فألزمها فإن الجنة تحت رجليها
“Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu dibawah kedua kakinya.” (Riwayat an-Nasa’i)
Di dalam hadits ini kita lihat, ketika ada seorang sahabat Rasulullah izin untuk pergi berjihad, tapi rasulullah malah menanyakan apa ia masih memiliki ibu atau tidak. Jika masih, maka ia lebih baik izin terlebih dahulu kepada ibunya untuk pergi berjihad. Kita ketahui, bahwasanya jihad itu wajib hukumnya, jika mati ketika jihad maka syahid dan surga menantinya. Akan tetapi disini, rasulullah menjelaskan bahwasanya berbakti kepada ibunya lebih mulia daripada berjihad di medan perang.
Kedua, untuk kaum hawa (wanita) yang ingin masuk surga adalah dengan taat dan patuh kepada suaminya, hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,
أيما امرأة ماتت وزوجها راض دخلت الجنة
“Wanita mana saja yang meninggal dunia dan suaminya dalam keadaan ridho padanya, maka ia pasti masuk surga.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan bahwasanya keridhoan suami itu dapat menyebabkan seorang istri masuk surga, bagaimana menjadi istri yang mendapatkan ridho suami, yaitu istri yang senantiasa patuh dan taat terhadap suaminya dalam hal yang diperbolehkan dalam syariat. Jadi andaikata ada seorang suami yang melarang istrinya untuk bertemu dengan orangtua istrinya karena suami memiliki hajat terhadapnya, maka ia tidak boleh bertemu orangtuanya.. (pembahasan ini akan kami ulas lebih jauh dalam artikel selanjutnya) insya Allah.

Ajaran Disesatin, tapi Shalat Ngikutin ???

Pada artikel sebelum ini, yaitu tentang qunut kami telah menerangkan secara ringkas mengenai pandangan para ulama mengenai qunut shubuh. Sedangkan pada tulisan kali ini, penulis ingin menyampaikan sebuah unek-unek penulis, dari hasil penelitian harian dari kebiasaan orang-orang di lingkungan sekitar penulis.
Banyak sekali umat islam di zaman sekarang ini, baru baca artikel dari google sesaat sudah berani sebut orang lain sesat, baru belajar ngaji udah berani mengkaji. Kita kembali ke pembahasan kita, ini pembahasan masih nyambung sama qunut shubuh yang udah kita bahas sebelumnya.
Anda mau ngikutin pendapat bahwa qunut shubuh itu ada, silahkan. Anda mau ngikutin pendapat yang tidak ada, juga silahkan. Tapi, kalau andaikata anda mengikuti pendapat yang tidak qunut, sebaiknya jangan sekali-kali anda shalat di tempat yang tidak qunut, mengapa? Karena shalat berjamaah anda tidak sah, kalaupun sah anda pasti mendapatkan dosa, tapi ini berlaku buat orang-orang yang mengikuti pendapat tidak qunut, kemudian dia shalat berjamaah di belakang imam yang berqunut dan dia sebagai makmum tidak mau qunut. (kalau belum mengerti baca berulang-ulang).
Kenapa kami berani bilang shalatnya gak bakal sah atau dapat dosa ?
Karena, ketika imam berqunur dan makmumnya tidak berqunut. Maka, dapat diketahui bahwa makmum ini adalah orang awam yang bodoh dan tidak memiliki ilmu tapi dia gak nyadar (baca: Toleransi para Ulama dalam Qunut Shubuh). Dan sebagimana dijelaskan di dalam matan zubad,
العمل بلا علم مردودة لا تقبل
Amal perbuatan tanpa didasari ilmu tertolak tidak diterima (oleh Allah).
Terus ada yang merasa pintar, pasti dia ngomong begini. Qunut dalam shalat shubuh itu tidak ada contohnya dari Rasulullah, karena tidak ada hadits shahihnya. Sedangkan setiap yang tidak dicontohkan adalah Bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, maka tidak usah mengikuti qunut shubuh. Orang jawabannya demikian biasa orang pinter karena rajin baca, tapi masih lebih banyak bodohnya. Kalau udah tau sesat imam yang qunut shubuh, ngapain jadi makmumnya, karena orang sesat itu pasti shalatnya tidak akan diterima toh. Lagipula kalau qunut itu bid’ah dan bid’ah sesat, maka sesat itu kan perbuatan syetan, nah sedangkan syetan itu kan tidak boleh diikuti apalagi menjadi makmumnya, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.   

Antara Iman dan Islam

Sering sekali kita mendengar kata Iman dan Islam, apakah itu dua hal yang sama ? ataukah dua hal yang berlainan ? kami akan coba memakarkan secara singkat dan lain dari yang lain. Insya Allah..
Iman berasal dari bahasa arab yang artinya percaya, Iman berbeda dengan yakin. Karena keyakinan itu baru hadir ketika kita memiliki kepercayaan akan suatu hal yang kemudian kita buktikan sendiri. Contoh mudahnya begini, ada seorang wanita yang dicintai oleh seorang pria playboy, si wanita ini pasti percaya bahwa pria ini mencintainya akan tetapi disisi lain ia belum yakin apakah pria itu masih playboy atau tidak. Sedangkan Iman menurut makna syariat adalah pernyataan dengan perkataan, pembenaran dengan hati dan pembuktian dengan amal perbuatan, hal ini sebagaimana telah kami sebut dalam artikel yang berjudul shalat.
Sedangkan Islam berasal dari bahasa arab yang artinya berserah diri atau pasrah atau selamat. Oleh karena itu orang yang beragama Islam adalah orang yang berserah diri kepada Tuhannya, pasrah dengan kehendak dan ketentuan-Nya, yang  nantinya Insya Allah ia akan selamat dari siksaan-Nya.
Dari dua pengertian diatas kita dapat menemukan suatu pemahaman bahwasanya Iman dan Islam tidak dapat dipisahkan. Karena, iman tanpa islam adalah sebuah kekafiran, sedangkan islam tanpa iman adalah sebuah kemunafikan. Jadi, kalau ada seorang manusia ia mengaku Iman kepada Allah akan tetapi ia menolak untuk menyembahnya (seperti syahadat, shalat dll) maka bisa dipastikan ia adalah seorang yang Kafir. Sedangkan, kalau ada seorang manusia ia rajin menyembah Allah (shalat, puasa dll) akan tetapi di dalam hatinya ia menyakini bahwasanya Allah tidak memiliki kuasa, atau dihatinya ia meragukan kekuasaan Allah, maka bisa dipastikan ia adalah seorang yang munafik.
Mengenai apa itu Iman dan Islam, serta rukun-rukunnya, cukuplah kita baca dan pahami sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab yang berkata,
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Imam Muslim)
Dalam hadits tersebut Rasulullah membagi Islam itu menjadi Lima :
  1. Syahadat
  2. Shalat
  3. Zakat
  4. Puasa di bulan Ramadhan
  5. Haji bila mampu
Sedangkan membagi Iman itu menjadi Enam :
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat
  3. Iman kepada Nabi dan Rasul
  4. Iman kepada Kitab
  5. Iman kepada Hari Kiamat
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar
Dan di dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan juga tentang Ihsan, yaitu puncak tertinggi dari Islam dan Iman seseorang. Mengenai pembahasannya akan kami buat pada artikel tersendiri. Insya Allah.

Wallahu ‘alam